O magnum mysterium
O great mystery! O Misteri yang amat agung!
Ketika Sang Sabda menjadi daging…
Allah yang Maha kuasa menjadi bayi yang lemah
Tangan yang menuntun bangsa Israel keluar dari Mesir kini tergolek tak berdaya
Derap langkah yang perkasa, kini bahkan tak kuasa untuk melangkahkan kaki-Nya
Ketika Kebijaksanaan menjadi tak kuasa untuk berbuat apa-apa
Ketika Sang Sabda tidak lagi berbicara, namun bertindak!
Ketika Maria melihat Sang Bayi, ia melihat Surga di pelukannya.
Dalam kesederhanaan Sang Bayi, Allah menantang semua kecongkakan manusia.
Karena kesombongan, manusia jatuh ke dalam dosa,
kini dalam kerendahan hati Sang Putra Ilahi, Allah menyembuhkan luka dosa itu.
Sang Sabda menjadi manusia dari Perawan Maria,
Sang Immanuel, Allah beserta kita.

et admirabile sacramentum,
and wonderful sacrament,
dan Sakramen yang sungguh terpuji
Ia bersabda, “Inilah Tubuh-Ku”
maka roti putih sederhana itu menjadi Tubuh-Nya.
Ia bukan hanya masuk ke dalam sejarah
tapi menyertai setiap langkah manusia.
Setiap hari sejak kedatangan-Nya,
Ia tidak pernah meninggalkan kita seorang diri.
Bila Ia lahir di Bethlehem dari Sang Perawan,
Ia lahir setiap hari dari tangan para imam-Nya.
Setiap Misa Kudus adalah Bethlehem yang baru.

ut animalia viderent Dominum natum,
that animals should see the new-born Lord,

sehingga para binatang menjadi saksi kelahiran Sang Raja,
Ia adalah Pencipta dan Pemilik seluruh Alam Raya
namun Ia tidak mendapatkan tempat untuk kelahiran-Nya
hanyalah binatang yang menyediakan tempat bagi Dia
keledai lambang kedunguan
sapi lambang kerja keras
dan domba, yang lembut, lambang pengorbanan.
Para binatang yang dungu, tekun, dan lembut itulah saksi kelahiran-Nya.
Tidak ada orang pandai ataupun cedekiawan yang menyaksikan saat itu.
Ia datang untuk menjungkirbalikkan tatanan dunia yang ada.
Ia lahir untuk memulihkan kehidupan yang telah rusak karena dosa
Kehidupan yang rusak karena egoisme, kesombongan, dan hasrat untuk menentang Allah.

jacentem in praesepio!
lying in a manger!
berbaring di palungan!
Ia berbaring di tempat makan ternak
di tempat makan ternak kota Bethlehem, Rumah Roti,
Sang Roti yang turun dari Surga
Memulai perjalanan-Nya
Ia dibuat sebagai suatu adonan
Suatu adonan yang akan khamir di Yerusalem
Dan menjadi santapan manusia di Kalvari.
Sepanjang hidup-Nya adalah proses pengkhamiran adonan itu.
Setiap hari sampai saat ini, Ia tetap menjadi roti,
Ia menjadi santapan manusia,
Santapan Peziarah,
Yang akan menghantar kita ke Surga.
Sama seperti bangsa Israel diberi makan manna untuk sampai ke Tanah Terjanji,
Gereja Kudus diberi makan Tubuh-Nya sendiri agar sampai ke Surga mulia.
You are what you eat, kata pepatah,
Kita yang memakan Tubuh-Nya
Juga diharapkan menjadi seperti Diri-Nya
Dipanggil pada kekudusan itu sendiri
Ditakdirkan untuk menjadi para kudus
Karena Ia adalah Sang Kekudusan.

Beata Virgo, cujus viscera
meruerunt portare
Dominum Christum.
Alleluia.
Blessed is the Virgin whose womb
was worthy to bear
Christ the Lord.
Alleluia!
Terpujilah Sang Perawan yang rahimnya
layak untuk membawa
Kristus Sang Raja.
Alleluia!
Maria karena kerendahan hatinya,
mengandung Sang Penyelamat dari Roh Kudus.
Ia mengandung Surga dalam rahimnya.
Ia adalah tabernakel pertama
Membawa yang Ilahi dalam tubuhnya.
Kita pun dipanggil untuk menjadi para pembawa Kristus,
Setiap hari, Ia menyediakan Diri-Nya sendiri untuk kita,
Undangan yang Ia sampaikan setiap hari
Undangan bahwa Ia mencintai kita.

Bethlehem adalah teguran untuk kita
Panggilan untuk berubah dari kehidupan kita.
Pada malam itu, semua nilai-nilai yang dianut manusia dijungkirbalikkan
Allah meletakkan keilahian-Nya untuk menjadi bayi yang tak berdaya,
Ia yang adalah Sumber Kekayaan menjadi miskin.
Para gembala yang berjaga di padang,
Diajak untuk meninggalkan kebiasaannya berjaga di tengah malam
untuk melihat Sang Bayi.
Tampaknya cukup mengherankan untuk meninggalkan sebuah rutinitas
untuk sesuatu yang nampak tidak jelas, bahkan tidak penting.
Namun itulah Natal,
Suatu kelahiran baru, suatu transformasi dari hidup yang lama ke hidup yang baru.
Para majus meninggalkan tempat mereka yang nyaman,
Untuk menyembah Sang Raja yang terbungkus lampin.
Semua adalah suatu proses, sebuah transformasi,
menuju sebuah target baru: Yang Ilahi.
Suatu hidup yang bukan lagi untuk diri kita sendiri,
namun untuk Dia yang sudah mati bagi kita.
Natal adalah suatu metamorfosa kehidupan,
Kelahiran kembali,
Suatu pergulatan untuk membalikkan makna kehidupan,
Untuk mencapai Sang Kehidupan itu sendiri.
Natal adalah saat untuk berbela rasa dengan sesama
bila Ia yang adalah Maha Kuasa sendiri mengasosiasikan Diri-Nya sendiri
dengan yang terbuang dan terpinggirkan,
maka kita mesti menyapa dan menyentuh kehidupan mereka,
berbela rasa dengan mereka,
dan menjadi kristus-kristus baru untuk mereka,
yang mau membela hak-hak mereka,
dan memberikan kegembiraan bagi kita.
Ini adalah perubahan yang disertai kegembiraan, suatu harapan.
Maka marilah kita ubah hidup kita,
seperti bintang yang menuntun para majus,
Natal menjadi kompas kita untuk menemukan Sang Bayi,
Menjadi pedoman kita untuk merubah kehidupan.
Jangan melepaskan pandangan dari bintang itu,
Bintang itu adalah Kristus sendiri.
Seperti malaikat yang bernyanyi di padang
“Hari ini telah lahir bagimu: Juruselamat. Di Bethlehem di kota Daud. Damai di bumi bagi mereka yang bekehendak baik (goodwill)”
Semoga Natal membawa damai di bumi,
bagi kita semua yang berkehendak baik.
Semoga Ia lahir di hati kita
dan melalui perbuatan-perbuatan kita,
tinggal beserta kita,
dan merubah kita menjadi semakin serupa dengan Diri-Nya.

Immanuel, Tuhan beserta kita,
Mane nobiscum Domine, abide with me, Lord; tinggallah beserta kami, Tuhan.

Selamat Natal…